Hari ini Peringatan Hari Kartini entah untuk yang keberapa kali
ada yang berbeda dengan perayaan saat ini
banyak perempuan yang telah menyuarakan aspirasinya, tidak hanya sibuk dengan kebaya, kain, sanggul, ataupun konde. Mereka berlomba untuk mencari jati diri dibelantara kehidupan ini. Mereka berusaha menunjukkan eksistensi, dan memberikan penyadaran bahwa kodrat perempuan tak hanya dapur, sumur, dan kasur.
Perempuan bisa menjadi pemimpin,
Perempuan bisa berkarir
Namun, kemana peran perempuan yang sebenarnya?
Kemana para ibu saat anak-anaknya menangis?
Kemana para ibu saat anak-anaknya membutuhkan susu?
Kemana para ibu saat anak-anaknya butuh pelukan hangat dan cerita menjelang tidur?
Kenapa justru peran itu jatuh ke tangan pembantu atau baby sitter? Anak-anak siapakah mereka? Anak baby sitter kah? Atau anak pembantu kah?
Bukan Wahai Ibu,
Mereka adalah anak-anak kalian, darah daging kalian, janin yang terus berkembang dalam rahim kalian…. Apakah kalian sudah lupa bagaimana rasanya mengandung? Atau sudah lupakah akan sakitnya masa persalinan? Mereka adalah insan baru yang keluar dari rahim kalian, diiringi dengan suara jeritan dan denting pisau operasi. Lupakah kalian akan masa - masa itu…??? Masa dimana nyawa kalian yang jadi taruhannya??
Para istri….
dimanakah kalian saat suami kalian pulang ke rumah?
kemana kalian saat suami ingin merasakan kemanjaan dan kehangatan dari seorang istri?
kemana baktimu pada suami saat kau tak mau lagi menemaninya berjalan bersama, berdampingan, bergandengan tangan…??
Saat perempuan tak lagi berada disamping suaminya, tak dapatlah sang suami seratus persen dipersalahkan atas apa yang terjadi dalam rumah tangga. Jangan selalu menyalahkannya yang mencari kehangatan diluar rumah, karena dia tak lagi mendapatkannya didalam rumah. Jangan selalu menyalahkannya yang lari ke pelukan perempuan lain, karena lenganmu tak lagi berada disisi badannya untuk memeluk, melainkan telah terentang lebar kemudian terkepak dan membawamu terbang semakin jauh dari lindungan suamimu.
Sekarang siapakah yang harus dipersalahkan..??
Salahkah bila pada masa ini justru ada perempuan yang lebih memilih untuk berada dalam kungkungan rumah? Dia hanya ingin menjalankan perannya sebagai ibu dan istri. Tidak ingin ia berkarir hingga melupakan keadaan anaknya. Ia hanya ingin selalu berada di sisi suami dan anak - anaknya saat ia dibutuhkan. Ia ingin melihat perkembangan anaknya detik demi detik. Ia ingin memiliki memori yang paling lengkap tentang perkembangan buah hatinya. Ia ingin selalu bisa mengantar dan menyambut sang suami di pintu rumah. Ia ingin selalu siap kapanpun suaminya membutuhkan, walaupun hanya untuk menyediakan segelas air dingin saat sang suami pulang dari kantor, ataupun saat suaminya membutuhkan pijitan untuk melepas lelah karena beban dipundaknya.
Wahai Ibu Kartini,
Masih ada perempuan di dunia ini yang ingin mengabdikan dirinya pada suami dan menjadi pelindung anak-anaknya. Masih ada perempuan yang berbesar hati menerima Poligami. Masih ada perempuan yang masih lebih memilih rumah daripada kantor untuk tempat berteduhnya.
Ku harap dirimu tak perlu merasa perjuanganmu sia-sia. Karena fitrah seorang perempuan lah untuk menjadi ibu rumah tangga.
setelah perenungan saat kajian muslimah… ku semakin mencintai apa adanya diriku….. aku perempuan dan aku adalah muslimah….. aku cinta dengan fitrahku yang mengharuskan ku kembali ke rumah.