Archive for April, 2006

khayalan

Saturday, April 29th, 2006

    banyak orang yang hidup dengan khayalan, banyak juga yang hidup justru dengan mengkhayal. ada yang mengatakan tanpa khayalan kamu tidaklah hidup. kamu hidup pun berasal dari khayalan, khayalan ayah dan ibumu.

   jika ditanya adakah orang yang tidak mempunyai khayalan, aku akan mengacungkan tangan. entah berapa banyak pengikut yang kupunya, atau mungkin aku adalah manusia tunggal yang berani mengakui bahwa dirinya tak lagi mempunyai khayalan. dunia khayalnya telah padam.

   aku adalah insan yang tak berani untuk berkhayal, namun kumasih sanggup untuk bermimpi. mimpi menjadi tempat pelarianku, saat ku tak berani melihat dunia. saat ku tak tahu kemana melangkah, mimpi menyediakan tujuan.

   namun kadang mimpi juga kejam terhadapku, ia menunjukkan sisi kelam yang selama ini ingin selalu kukubur dalam dan rapat. kumeronta ingin keluar dari alam mimpi, kuberhasil. tapi peluh mengalir deras dari seluruh tubuhku, dan aku tak nyaman lagi karenanya.

   mimpi tidak sama dengan khayalan. mimpi merupakan gambaran diri, tapi khayalan adalah sesuatu yang diinginkan. sedangkan keinginan manusia tak terbatas jumlahnya, maka batas khayal juga semakin melebar, semakin tinggi, hingga tangan tak mungkin lagi menggapai.

   aku takut untuk berkhayal, aku cinta posisi dimana kuharus berpijak. kuingin terus maju, namun  bukan khayalan yang harus memimpin. biarkanlah kaki mewujudkan apa mimpinya. kuingin terbang, namun biarkanlah kepak sayap yang mengangkat tubuhku dan bukan khayalan.

   khayalan dapat membuatku sakit, lebih sakit dari terantuknya kepalaku dengan batu saat kuberjalan oleng. sakit yang tak dapat dihilangakn dengan efek anestesi. kutakut untuk merasa sakit.

24 / 7

Tuesday, April 25th, 2006

24 / 7

24 jam sehari

7 hari seminggu

hanya itu yang bisa kuharap, setelah satu tahun berlalu… kuingin tetap seperti itu tidak hanya hari ini, esok, ataupun lusa… kuingin seterusnya seperti itu…. ya 24/7

mengenang setahun "tragedi" di Pelataran TIM setelah menghadiri ultah HAAJ, dan sms yang datang pada tengah malam 24 April 2005

khadijah

Sunday, April 23rd, 2006

Khadijah, sosok wanita yang dicintai Rasulullah hingga akhir hayat. Sosok perempuan yang tak mampu diduakan, hanya dirinya seorang sebagai pendamping. Sosok yang selalu dapat dijadikan tempat berteduh sang suami dari segala macam gundah gulana yang melanda. Setia menemani saat deraan wahyu itu datang.

Mungkinkah aku dapat memiliki sedikit saja dari kesempurnaan dirinya? Sosok bersahaja yang dikenang sepanjang masa.

Tak mungkin diriku menjadi Ummul Mukminin

Tak mungkin pula aku mampu melahirkan sosok Fatimah Az-Zahra

Yang kuinginkan, aku dapat menjadi penerus jejaknya. Dapat menjadi istri dan ibu yang baik.

Seorang istri yang bisa memberikan segala yang dibutuhkan suaminya. Seseorang dengan tangan yang selalu memiliki pelukan hangat sebagai tempat kembali. Seseorang yang tak hanya menyerahkan harta bahkan raga dan jiwanya juga dipersembahkan untuk Kekasih dari suaminya. Seseorang yang mampu ikut menopang perekonomian keluarga, walau bergerak di balik layar. Seseorang yang tidak pernah merasa terkungkung dalam rumahnya sendiri. Seseorang yang mampu menghidupkan biduk rumah tangga. Seseorang yang tidak menuntut akan kehadiran seorang suami disetiap langkah-langkah panjangnya.

Sosok ibu yang mampu menjadi tempat belajar anak-anaknya. Sosok yang mampu menjawab setiap pertanyaan kritis dari mulut-mulut mungil mereka. Sosok yang tetap menjadikan dirinya pengasuh, walaupun dia mampu mempekerjakan sekian wanita untuk mengasuh. Dia yang rela menyuapi dan dikotori oleh muntahan anak-anaknya. Dia yang rela membersihkan segala macam kotoran yang ada. Senantiasa sabar dengan segala kebandelan sang buah hati. Tak pernah ringan tangan dalam menghadapi kenakalannya.

Ya Khadijah,

sungguh dirimu mampu membuat perempuan sedunia iri padamu … bahkan para Ummul Mukminin yang lain … tak mungkin ada perempuan yang lebih berbahagia dari padamu … bersuamikan Rasulullah dan berputrikan Fatimah

aku adalah perempuan dan ingin selamanya menjadi perempuan… ku ragu mengganti identitas menjadi wanita

kuingin dicinta

Sunday, April 23rd, 2006


ku berjalan sendiri…. mengikuti langkah yang makin tak pasti

bimbang mengikuti …, ada iri terselip melihat mereka tertawa.. menikmati indahnya sore bersama… makan siang bersama setelah zuhur berjamaah…..

   aku ingin berada dalam barisan mereka
  aku ingin menjadi bagian dari mereka
  wajah mereka yang selalu teduh terkena embun dari air wudhu
  bibir mereka yang senantiasa dihiasi dengan senyuman tulus

yang paling kuiinginkan untuk menjadi seperti mereka adalah karena mereka tak pernah merasa kesepian.. mereka selalu merasa dekat dengan kekasihnya… mereka tak pernah takut akan ditinggal oleh kekasihnya… mereka tak takut akan dikhianati kekasihnya…

     yang mereka takutkan justru mereka tidak dapat memberi yang terbaik untuk kekasihnya…..  mereka tak dapat sepenuh hati memberi pada Sang Kekasih…. mereka takut bila hatinya terbagi, tak hanya untuk kekasihnya tercinta

Rabi’ah , 
ku ingin seperti dirimu….. yang rela mengenakan pakaian ibadah sepanjang malam untuk menemui Sang Kekasih… dirimu memilih pakaian itu melebihi keinginan untuk beristirahat dalam pelukan suami tercinta

ku ingin bisa mendapatkan cinta-Nya
cinta yang sejati
cinta yang tak lekang oleh waktu
cinta yang akan mengantarkanku menuju Jannah
cinta yang akan mengantarkanku mereguk susu, madu, anggur dari sungai yang mengalir

haruskah ku memulai awal yang baru untuk mulai mencintai-Nya? ku tak tahu darimana langkah pertamaku harus mengarah agar hati ini dapat mencintai sepenuhnya, dan hanya pada diri-Nya… apakah Ia sudi untuk meminang cintaku yang telah kotor?

setiap orang menginginkan kesempurnaan
terlebih lagi dengan Dirinya, Sang Maha Sempurna

Kartini Abad 21

Friday, April 21st, 2006

Hari ini Peringatan Hari Kartini entah untuk yang keberapa kali

ada yang berbeda dengan perayaan saat ini

banyak perempuan yang telah menyuarakan aspirasinya, tidak hanya sibuk dengan kebaya, kain, sanggul, ataupun konde. Mereka berlomba untuk mencari jati diri dibelantara kehidupan ini. Mereka berusaha menunjukkan eksistensi, dan memberikan penyadaran bahwa kodrat perempuan tak hanya dapur, sumur, dan kasur.

Perempuan bisa menjadi pemimpin,

Perempuan bisa berkarir

Namun, kemana peran perempuan yang sebenarnya?

Kemana para ibu saat anak-anaknya menangis?

Kemana para ibu saat anak-anaknya membutuhkan susu?

Kemana para ibu saat anak-anaknya butuh pelukan hangat dan cerita menjelang tidur?

Kenapa justru peran itu jatuh ke tangan pembantu atau baby sitter? Anak-anak siapakah mereka? Anak baby sitter kah? Atau anak pembantu kah?

Bukan Wahai Ibu,

Mereka adalah anak-anak kalian, darah daging kalian, janin yang terus berkembang dalam rahim kalian…. Apakah kalian sudah lupa bagaimana rasanya mengandung? Atau sudah lupakah akan sakitnya masa persalinan? Mereka adalah insan baru yang keluar dari rahim kalian, diiringi dengan suara jeritan dan denting pisau operasi. Lupakah kalian akan masa - masa itu…???  Masa dimana nyawa kalian yang jadi taruhannya??

Para istri….

dimanakah kalian saat suami kalian pulang ke rumah?

kemana kalian saat suami ingin merasakan kemanjaan dan kehangatan dari seorang istri?

kemana baktimu pada suami saat kau tak mau lagi menemaninya berjalan bersama, berdampingan, bergandengan tangan…??

Saat perempuan tak lagi berada disamping suaminya, tak dapatlah sang suami seratus persen dipersalahkan atas apa yang terjadi dalam rumah tangga. Jangan selalu menyalahkannya yang mencari kehangatan diluar rumah, karena dia tak lagi mendapatkannya didalam rumah. Jangan selalu menyalahkannya yang lari ke pelukan perempuan lain, karena lenganmu tak lagi berada disisi badannya untuk memeluk, melainkan telah terentang lebar kemudian terkepak dan membawamu terbang semakin jauh dari lindungan suamimu.

Sekarang siapakah yang harus dipersalahkan..??

Salahkah bila pada masa ini justru ada perempuan yang lebih memilih untuk berada dalam kungkungan rumah? Dia hanya ingin menjalankan perannya sebagai ibu dan istri. Tidak ingin ia berkarir hingga melupakan keadaan anaknya. Ia hanya ingin selalu berada di sisi suami dan anak - anaknya saat ia dibutuhkan. Ia ingin melihat perkembangan anaknya detik demi detik. Ia ingin memiliki memori yang paling lengkap tentang perkembangan buah hatinya. Ia ingin selalu bisa mengantar dan menyambut sang suami di pintu rumah. Ia ingin selalu siap kapanpun suaminya membutuhkan, walaupun hanya untuk menyediakan segelas air dingin saat sang suami pulang dari kantor, ataupun saat suaminya membutuhkan pijitan untuk melepas lelah karena beban dipundaknya.

Wahai Ibu Kartini,

Masih ada  perempuan di dunia ini yang ingin mengabdikan dirinya pada suami dan menjadi pelindung anak-anaknya. Masih ada perempuan yang berbesar hati menerima Poligami. Masih ada perempuan yang masih lebih memilih rumah daripada kantor untuk tempat berteduhnya.

Ku harap dirimu tak perlu merasa perjuanganmu sia-sia. Karena fitrah seorang perempuan lah untuk menjadi ibu rumah tangga.

setelah perenungan saat kajian muslimah… ku semakin mencintai apa adanya diriku….. aku perempuan dan aku adalah muslimah….. aku cinta dengan fitrahku yang mengharuskan ku kembali ke rumah.

mendesak

Thursday, April 20th, 2006

betul kata seorang teman
"uang itu bukan masalah….
yang masalah justru kalau tak ada uang
"

banyak kasus kriminal terjadi karena tidak adanya uang,
kemanakah uang saat dicari..???

tapi,
mengapa banyak juga yang justru buang-buang uang..??

     uang terhampar di meja rolet, kasino, dan terbenam dalam tumpukan kartu
    orang yang mencari uang terkapar menunggu maut

    uang dibakar
   dalam berbagai rupa
   rokok dan ganja
 
   kemana nurani mereka…??
   rokok lebih berharga dari nyawa
   ganja menang dari keluarga

bagaimana nasib kalian yang harus berjuang menahan lapar….??
bagaimana nasib kalian yang harus berjuang melawan badai..????

ya…., keresahan kembali melanda….
mungkinkah saat itu akan tiba…???
dan ku hanya bisa berharap

pusing

Wednesday, April 19th, 2006

biaya kenapa mahal sekali…..????

aku bingung…..

haruskah kumelangkah mundur karenanya..???

hasil chat berhari-hari
berkalkulasi dan berekspektasi

feeling so great

Wednesday, April 12th, 2006

bahagia menyinariku saat mentari belum lagi terjaga

bahagia menyelimutiku saat dingin masih meraja

bahagia menciumiku,

            membangunkanku dari lelapnya mimpi

apakah ini mimpi?

    andai iya,

    ku tak ingin bangun ‘tuk kemudian merusaknya

    andai bukan,

    ku hanya ingin merengkuhnya rapat

ya…..

batas benua yang baru akan mulai kujalani

ku belum menjalaninya sekarang,

   sanggupkah aku jika tiba saatnya harus memulai memasuki halang rintang hati ini dengan benua sebagai perbatasannya

   entah berapa samudera yang harus dijelajahi untuk menemukan titik finish dari halang rintang ini

segala rasa yang bersatu setelah menerima telepon 12 April ‘06 pukul 04.15

tertusuk

Friday, April 7th, 2006

    Siang ini beruang berjalan bersama dua ekor beruk. Panasnya hari ini tak mengurungkan mereka untuk mencari makan, disaat yang makhluk2 lain penghuni Taman Gajah juga sibuk bergegas menuju kesibukan yang lebih tinggi nilainya.

    Akhirnya setelah melewati beberapa petak lahan, mereka menemukan lahan yang pas untuk menjadi tempat makan siang. Obrolan hangat pun mengalir diantara mereka. Beruk B akhir2 ini tampak selalu membawa bunga, tanda normal beruk yg sedang jatuh cinta. Namun, Beruk A tampaknya terbenam dalam lumpur hisap dari cinta lamanya. Belakangan beruang mengetahui ternyata Beruk B jatuh cinta pada sosok Monyet C. Obrolan terus berlangsung hingga menyangkut si beruang itu sendiri.

    Beruk  B bertanya, "kenapa beruang masih mau tungguin beruang madu? padahal ada sosok Bebek yang selalu jalan bareng beruang.". Knapa Beruk harus bilang itu, tak tahu kah bahwa Beruk udah nyakitin hati beruang?

kenapa sahabat yang telah bersama justru menghancurkan diriku
adakah salah aku pernah mengucapkan ucapan yang sama kepadanya
karena ku tahu itu salah..!!!!!!
malam ini tampak lebih kelam…..
akankah hubunganku juga bertambah kelam dengannya?

Gelap Nyawang, Jum’at 7 April 2006

sendiri dan sepi

Thursday, April 6th, 2006

sendiri dan ku merasa sepi

terkadang ku sendiri tapi sepi tak menghampiri

kadang ku mencari sepi tapi ku tak sendiri

entah apa yang kurasa saat ini

aku merasa sendiri ditengah keramaian

aku merasa sepi di tengah hingar-bingar

siapakah yang salah?

salahku yang tidak merasakan itu semua kah?

ataukah

kesalahan segala yang terjadi disekitarku dan tidak menyertakanku didalamnya?

kepada siapa ku harus bertanya tentang ini?

menoleh kebelakang,

     rentetan memori berbayang

     ada sisi kelam disana

sekelam mataku yang memandang kesekitar

haruskah kekelaman itu membuat duniaku menjadi kelam seluruhnya?

kelam yang tidak dapat disensor syaraf mata

kelam yang tak teraba jari tangan

kelam yang tak tercium oleh hidung

kelam yang tak terkecap lidah

kelam yang dinginnya diatas ambang batas yang mampu diindera oleh kulit

kekelaman sepanjang masa

inspired : kelas Statdas yg batal