Archive for July, 2006

untukmu kala rindu

Wednesday, July 12th, 2006

Saat sepi dan gulana melanda hanya dirimu yang terbayang
Saat kumerindu hanya dirimu yang kudamba
Saat kutertidur dirimu hadir
Saat kuterjaga kau tak lagi nyata

Ibu…
Ingin ku terbang kembali dalam pelukanmu
Ingin merasakan kembali hangatnya dekapan dan ciumanmu
Ingin ku selalu berada didekatmu

Ibu…
Entah apa yang kurasakan kini, hanya … kumerasa amat sangat merindumu
Suaramu diujung telepon tak mampu meredam rinduku padamu
Kuingin lebih dari hanya percakapan kecil yang terjadi pagi tadi
Kuingin kembali merasakan nyamannya dekat dengan dirimu

Ibu…
Andai ku tak malu, kuingin menangis dalam KBU … mendengar suaramu yang menanyakan kabarku dan melantunkan do’a untukku
Andai kubawa lebih banyak uang, tak ingin kuhentikan percakapan singkat kita … kuingin bisa mendengar cerita lebih banyak darimu, Ibu

Ibu…
Terimalah salam rindu dari seseorang yang merindumu
Seseorang yang kaubuat kembali merasakan hangatnya sebuah dekapan
Seseorang yang telah kauberi pelajaran tentang hangatnya keluarga
Seseorang yang hanya merasakan hangat di teriknya kota yang dibakar panas
Seseorang yang hampir dua tahun kaurasuki kehidupannya

Ibu…
Salahkah inginku yang mendamba untuk bertemu denganmu?
Ibu…
asty sayang Ibu …
Terimakasih atas segala cinta dan do’a yang senantiasa Ibu kirim untuk menghiasi indahnya hari
Ibu…
Kuinginkan kau dapat menjadi ibuku selamanya

Ibu… kuingin dalam pelukmu
asty rindu Ibu

untuk : Ibu di Surabaya yang terpisah jarak dariku

hariku

Friday, July 7th, 2006

hari ini sama seperti hari Jum’at yang lain, para muslim berlomba, berlari untuk mendapatkan tempat paling utama dalam jajaran shaf shalat Jum’at…

tak dapat dipungkiri, sementara yang lain berlomba untuk meraih keutamaan  sebagian lagi justru berleha-leha menunggu hingga waktu khotbah hampir selesai …

mereka tak mengharapkan tempat yang nyaman didalam mesjid, mereka tak berkeberatan dengan teriknya suasana pelataran mesjid, mereka juga tak berkeberatan untuk shalat beralas koran … yang ingin kutanya apa justru mereka yang berkeberatan untuk bertemu dengan Sang Kekasih Sejati..?

teriknya siang ini tak kurasa membakar kulit … semuanya hambar … tak terasa apa-apa lagi di kulitku ini … apa indera ku telah mati dan tak ada yang mengganti..? kemana semua rasa yang harusnya ada..?

remuk redam segala asa di hati … tak ada lagi tempat yang dicari … hilang sebuah pengisi hati … yang kuingin hanya lari …

lama tak kuhampar sajadah merah … lama air wudhu tak menyentuh … lama sudah tak bersimpuh …

Wahai Kekasih Sejati.., masihkah rinduku ‘kan Kau terima..? jika aku tak pernah lagi menyapa-Mu … masihkah maaf yang terhatur ‘kan Kau sambut..? kala hatiku tak lagi murni untuk-Mu … akankah daku yang bersimpuh masih dapat menggapai cinta-Mu lagi..?

aku memang bukan orang yang sempurna … bukan orang yang mampu memaknai semua yang terjadi pada indahnya hidupku … namun, apa salah jika aku mengharap ada pintu maaf yang terbuka untukku..? kesalahanku memang tak dapat lagi terhitung, bukan tak mungkin kesalahan yang sama kembali terulang …

surat untukmu Akhi…

Thursday, July 6th, 2006

kepada saudaraku tersayang…,

Akhi….,
jangan pernah tawarkan bahumu ‘tuk dijadikan tempatku bersandar…
jangan pernah tawarkan dadamu ‘tuk tempatku menangis…
jangan pernah tawarkan lenganmu ‘tuk memberiku kehangatan dan ketenangan dalam pelukanmu…

Akhi…,
kusadari engkau memiliki track record yang bagus…
kuharap hanya jangan sia-siakan itu…
ingat para mentee yang senantiasa menjadikanmu contoh…
kau yang mengajarkan mereka tentang kesuritauladanan…
kau yang memberitahu mereka maan yang salah dan mana yang benar…

Akhi…,
kami, perempuan, memang butuh untuk dikasihi, disayangi, dan diperhatikan…
kami juga butuh  pengawasan dan perlindungan…
kami butuh sosok pelindung…
namun,
untuk saat ini biarkanlah kami sendiri…
kelak akan ada yang seseorang yang menjalankan peranan itu untuk kami…
sementara ini biarkanlah kami masih dalam asuhan dan pengawasan ayah dan bunda tercinta…

Akhi…,
aku meminta kau …
menahan diri untuk tidak berlama-lama meneleponku
menahan diri untuk tidak mengucapkan sayang di smsmu
menahan diri untuk tidak membangunkanku walau itu saatnya untuk qiyammul lail ataupun subuh
menahan diri untuk tidak selalu menemaniku kemanapun aku berjalan
dan…
menahan diri untuk tidak selalu menyediakan dirimu untukku

Akhi…,
saatnya kita untuk saling menata hati dan mempersiapkan diri untuk bertemu Pecinta Sejati

berdosa dan bersyukur

Wednesday, July 5th, 2006

ya Allah….,
hari ini hamba-Mu telah melakukan kesalahan lagi..
aku telah melanggar hak orang lain…

ya Rabb….,
kenapa tapi aku malah bersyukur telah melakukannya?
aku bersyukur ternyata aku masih memiliki teman…
seseorang yang berada dalam kehinaan sepertiku…
ada kesalahannya yang hampir saja kulakukan…
aku tak sampai terjerumus kesana….

ya Rabb…,
ya Ghaffur….,
ampunilah hamba-Mu ini..
entah berapa banyak air mata yang harus kukuras malam ini dalam keheningan malam..
aku terlalu banyak melalaikan perintah-Mu..
aku malu untuk mengadu pada-Mu…..

ya Rahiim….,
berilah ketenangan batin pada hamba yang hina ini….
berilah aku kesegaran…..
aku yang senantiasa kering…

ya Rahmaan…,
temanilah diriku malam ini….
aku yang merasa sepi dan sendiri beberapa malam ini….
aku yang merasa ditinggalkan…

kusadari….,
mungkin jika ada yang disebut karma…
maka inilah karmaku…
karma karena aku terlalu sering meninggalkan Yang Maha Kasih
karma karena meninggalkan Yang Tercinta
karma karena meninggalkan Sang Pecinta Sejati

karma karena aku telah membuat cemburu Sang Maha Pencemburu..
aku telah membuat-Nya cemburu…
aku telah menduakan hatiku untuk yang lain…..

Wahai Sang Pecinta Sejati….
tolong gapai aku dari keterpurukanku ini….
tolong raih aku kembali dalam pelukan-Mu….
aku tak ingin semakin jatuh dan jauh dari-Mu….
temani aku dalam kesendirianku….
kirim satu bintang untuk temani aku dalam gelapnya malam…
kirim satu rasa tenang dan hangat yang dapat menjalar diseluruh nadiku…
dan…
kirim satu pengingat bahwa aku harus berjumpa dengan-Mu malam ini…

menguaplah engkau, Wahai Ego Duniawiku…
biarkanlah tuanmu ini bercengkrama bebas dengan Yang Mencinta
biarkanlah tuanmu ini bercumbu nikmat dengan sajadah yang terhampar..
tuanmu hanya ingin melepas lelah dalam pelukan Sang Pecinta…

setelah pengamatanku beberapa hari terakhir..
Q6 tercinta dalam buaian dosa