terima kasih, tapi maaf

kuberjalan gontai memasuki kamarku, ruang pribadiku … sendi tak lagi berpelumas, hanya berat yang terasa … otot tak lagi kuasa menggerakkan tulang … penat, letih, lelah melanda … tak ada lagi rasa badani … kuhanya ingin beristirahat … memejamkan mata … menidurkan kerja syarafku … mendinginkan panas tubuhku … mematikan aktifitas lahiri

kuberjalan …. menyeret tasku, tak dapat lagi kusampirkan tas pada pundakku … perlahan, tangan merogoh kunci dalam saku … memasukkannya ke lubang pintu … memutar … klik … tangan meraih kenop dan mendorongnya ke bawah … tenaga yang lain mendorong sang pintu … kamarku terbuka

gelap kutemui … tangan meraba dinding mencari saklar lampu … kutemukan … klik … lampu menyala … terang … ku terjatuh lemas

ini bukan kamarku … kuasing dengan ruangan ini … ini bukan kamarku …

tak ada buku berserakan dikarpet karet … tak ada kain poleng sebagai alas tidur … tak ada selimut merah bergulung diatas ranjang … tak ada tumpukan boneka teman tidurku … tumpukan baju telah berpindah tempat … "Red Leaves" terbang keatas lemari … "Ocean Sea" entah melangkah kemana

ku terasing … terakhir kali kutinggal tak begini keadannya … sekarang semuanya serba teratur … tertata rapi … kamarku bukan lagi milikku …

kusadar ada yg begitu perhatian padaku, pada keadaan kamarku yang memang sudah tak berbentuk … tapi aku merasa nyaman didalamnya … tempatku untuk bersembunyi kala butuh sendiri … sekarang kumerasa asing…

terimakasih kepada seseorang yang telah membuat kamarku tertata rapi … namun maaf, karenanya dirimu aku tak dapat menemukan buku catatanku … aku berjalan dengan tangan kosong menuju kampusku … dan kukembali berjalan gontai karenanya…

Leave a Reply